Kamis - 5 September 2013

Intisari-Online.com - Meski baru berkembang dalam kurun waktu lima tahun terakhir, latte art sudah banyak digandrungi di Indonesia. Bahkan, jika dibanding dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya, menurut direktur Universitas del Caffe, Michael J. Gibbons, Indonesai paling pesat. 

Tak ayal, beberapa kompetisi latte art banyak diadakan. Sekolah barista, khususnya kelas latte art juga sudah bisa ditemukan di negeri kaya kopi ini.

Bagi beberapa barista, dapat membuat latte art adalah bonus tersendiri, apalagi motif yang dibuatnya termasuk kategori sulit. Bagi Cliff Evan, barista Hotel Indonesia Kempinski, motif rosetta, selain menjadi favoritnya, adalah motif yang paling susah dibuat.

Menurut Cliff, yang juga hobi fotografi ini, seorang profesional pun, jika tidak dalam waktu dan kondisi yang tepat, jarang mendapatkan hasil yang sempurna. Maka menciptakannya dengan sempurna adalah kepuasan yang tak terperi.

“Lebih dari itu, ini adalah hadiah. Imbasnya, saya menjadi lebih termotivasi untuk terus mencoba motif-motif baru lain. Membuat double rosetta, misalnya,” kata Cliff yang mengaku menyukai latte art sejak 2010 lalu.

Selain itu, kreatifitas baru biasanya bisa muncul saat melihat orang-orang beraktivitas, memancing, berjalan di atas trotoar, berlayar, dan sebagainya.  

Bak gayung bersambut, popularitas latte art berbarengan dengan semakin moncernya profesi seorang barista di hotel-hotel bintang lima. Tidak hanya sembarang barista tentunya, karena salah satu syarat yang diembankan adalah mampu menciptakan secangkir latte art nikmat nan lezat.

“Jadi, jangan pernah takut untuk belajar latte art, karena siapa saja bisa melakukannya. Satu lagi, ini adalah profesi yang menggiurkan,“ ujar Arief Budiman, barista Universita del Caffe, mantap.

Berita Terkait